http://pakguruonline.pendidikan.net
   

Padang -   

 

   

 

PEMBENAHAN PENDIDIKAN


 

Oleh: 
Drs. Fekrynur, M.Ed.*

    

Benarkah itu, bahwa orangtua siswa hanya berpikir, ‘yang penting’ anaknya dapat diterima di sekolah, dan tidak mempermasalahkan mutu ?”

   

penyebaran kesempatan mendapatkan pendidikan perlu, menanamkan kemauan dan semangat belajar lebih diperlukan-- institusi pendidikan bermutu suatu kewajiban nasional

  

Tiapkali ada pembicaraan tentang pendidikan, orang hanya berbicara soal pemerataan kesempatan untuk mendapat pendidikan sampai ke daerah terpencil. Kebanyakan pejabat bidang pendidikanpun, sepertinya, ikut terbawa pola pikir soal bagaimana menyebar bangunan sekolah. Walaupun, kenyataan ‘sejarah’ menunjukkan bahwa penyebaran sekolah yang lamban di masa lalu, tidak mengurangi kesempatan untuk menghasilkan tokoh berpikiran maju seperti: Basri A.S, mantan Kakanwil Depdiknas dari Sigiran Maninjau, Syafei Ma’arif keluar dari Sumpur Kudus - Sawahlunto Sijunjung, Rosihan Anwar tidak menetap tinggal di Kubangduo - Solok saja. Mereka semua ‘hijrah’, meninggalkan kampungnya untuk mendapatkan pendidikan. Ini baru contoh kecil dari salah satu propinsi saja. Secara nasional jumlah tokoh seperti itu spectacular banyaknya.

 

Saya melihat konsep ‘pemaksaan penyebaran sekolah’-- minus mutu— merugikan.  Dalam taraf tertentu  pembangunan sekolah tingkat SMP dan SMA di beberapa daerah terpencil malah menghapus semangat merantau orang minang. Apalagi kalau system penerimaan siswa barunya dengan rayonisasi yang sangat ketat, untuk melindungi agar sekolah pinggiran kurang mutu tetap mendapat banyak siswa baru.

 

Dana dihabiskan terlalu banyak untuk ‘penyebaran’ gedung sekolah. Sementara, siswa yang sudah dapat bersekolah tidak kunjung pandai, karena usaha nyata untuk peningkatan mutu pembelajaran sangat minim dan kurang serius dilakukan.

Dalam segi institusionalisasi pendidikan (sesuai pelaporan-- bahwa kita telah mendirikan berbagai wadah pembelajaran sampai dengan wajib belajar sembilan tahun) kita mungkin telah meningkat sesuai dengan angka-angka dalam statistik. Namun ini tidak berarti bahwa orangtua kita dulu yang hanya sampai tiga (3) tahun saja belajar di Sekolah Desa tidak sukses program pembelajarannya. Buktinya, cukup banyak dari mereka yang hanya berpendidikan formal tiga tahun terus belajar sepanjang hayat Apa yang disebut sebagai otodidak, belajar mandiri, telah mereka lakukan melalui membaca, di masa lalu.

Apa yang dikerjakan kebanyakan anak usia sekolah, sekarang, di luar jam sekolah atau setelah mereka mendapat ijazah  wajarsembilan tahun?

 

Dr. Ian Chalmers, konsultan LIPI untuk ilmu-ilmu sosial, mengakui bahwa di negaranya Australia tuntas wajarsembilan tahun, di atas kertas, sulit dicapai karena factor geografis benua. “Secara pribadi saya tidak merisaukan hal itu, karena mereka bisa diharapkan mau belajar sendiri”,  tambahnya.

Akankah Indonesia yang berpulau banyak dan terpencil bisa menuntaskan wajar lebih mudah dan murah?   

 

Sebenarnya potret pendidikan kita sekarang, kalaupun jelek, tidak dapat kita persalahkan hanya  kepada guru, para pengawas, kepala dinas, ataupun menteri pendidikan yang bertugas saat ini. Kondisi pendidikan ini adalah produk dari sebuah proses panjang. Kebijakan yang tidak bijak di masa lalu, perikrutan guru yang tidak benar, penanganan manajemen pembinaan pendidikan yang membingungkan semuanya berkontribusi.  Pengimplementasian program pendidikan nasional yang telah berjalan selama lebih dari setengah abad, yang kita tangani sendiri sebagai bangsa yang merdeka, mungkin tidak tepat, atau telah disimpangkan. Makanya, itu semua harus ditinjau ulang dan dibenahi.

 

Adalah suatu kesalahan bila perbaikan mutu tidak diusahakan secara konkrit. Apa yang salah seharusnya dicaritahu, untuk kemudian dibenahi.

 

Kiranya, kita tidak perlu merasa malu atau minder untuk belajar dari bangsa lain yang lebih maju pendidikannya. Berhentilah menjadi bangsa yang manganggap kita terlalu khusus, lain dari bangsa lain. Kenyataan, kita selalu terjebak dalam peringkat terendah dalam banyak hal. Sebetulnya Indonesia tidak kekurangan ahli di bidang pendidikan.

 

PEMBENAHAN

Menurut hemat saya, kedepan ada dua (2) hal pokok yang perlu mendapat perhatian dari pemerintahan dan pengelola satuan pendidikan, baik nasional maupun di tingkat daerah:

Pertama, komitmen jangka panjang kepada usaha peningkatan mutu pendidikan yang diimplementasikan dalam program: peningkatan minat baca, pendidikan konserfasi alam dan moral etika, dan peningkatan kemampuan berbahasa (Indonesia dan Inggeris) untuk komunikasi.

Kedua, komitmen untuk menyerahkan manajemen pendidikan kepada ahlinya, yaitu para pendidik yang telah mengalami proses transformasi dalam mata pelajaran tertentu, dan berpengalaman menekuni bidang pengajaran.

 

Peningkatan Mutu di Kelas

Komitmen kepada program peningkatan mutu, tidak hanya pas dalam kondisi situasional sesaat, tetapi sangat diperlukan dan akan berdampak jangka panjang.

Peningkatan minat baca peserta didik tidak dapat ditinggalkan kalau mutu siswa lulusan hendak diperbaiki. Nilai Ujian Akhir Nasional (UAN)- nya hendak ditingkatkan, dan angka keberterimaan siswa SMA per provinsi di PTN papan atas hendak dinaikkan, dan merata tidak didominasi orang kota saja.

Peserta didik yang gemar membaca tidak akan pernah berhenti belajar. Hanya bangsa yang giat belajar yang akan dapat meningkatkan Human Development Index (HDI)-nya.

Kita sakit hati membaca HDI Indonesia berada pada peringkat 111 dari 175 negara, di bawah Vietnam yang berada pada tingkat 90an.

  

Berapa orang yang telah membaca bahwa, “B.J.Habibie, kecil pernah dipaksa keluar dari ruangan bacanya agar dia berhenti belajar dan pergi bermain?”

 

Pendidikan konserfasi alam dan moral etika perlu dikenal-ulangkan, untuk meredam proses perusakan sumber-daya alam berjalan deras. Bila tidak, Indonesia yang bersih asri akan tinggal dalam angan angan; sementara, sopan santun adat ketimuran hanya akan ada dalam hikayat saja. Pada kondisi ekstrim seperti itu, pembangunan hanya berarti kemajuan material, tanpa roh, yang menjauhkan kita dari kebahagian bermasarakat.

 

Pembenahan pengajaran bahasa (Indonesia dan Inggeris) untuk berkomunikasi dianggap penting karena bahasa adalah alat untuk mendapatkan ilmu, baik di dalam maupun di luar bangku sekolah. Pembelajaran tidak akan berhasil bila kemampuan berkomunikasi peserta didik dalam berbahasa rendah. Mereka kesulitan dalam memahami berbagai sumber belajar seperti; guru, buku, maupun media elektronik.

 

Tiga program pembenahan diatas, sudah barangtentu, tidak bisa berjalan sendiri. Ketiganya harus disejalankan dengan program yang sudah ada dalam kurikulum, dengan beberapa penyesuaian.  Harus ada upaya pembinaan terus menerus dari pejabat agar program itu ada dan berjalan. Para guru dan kepala sekolah memerlukan dorongan pejabat structural di atasnya dalam beralih ke paradigma baru belajar untuk mutu.  

 

Semenjak zaman Socrates, masa awal berkembangnya (ilmu) pendidikan, yang menjadi primadona atau induk pengajaran adalah: ilmu bahasa (dalam filsafat dan sastera), ilmu hisab (mencakup; aljabar, kimia dan ilmu falaq), pertabibban, seni (musik dan melukis). Semakin maju suatu masarakat, semakin dirasa perlu pula pengajaran keolahragaan.

 

Manajemen Pendidikan

Perbaikan komitmen terhadap mutu di kalangan manajemen pendidikan, yang berjenjang dan berstruktur, mulai dari sekolah, pengawas, kepala dinas kabupaten-kota , propinsi dan nasional, amat diperlukan agar perbaikan mutu dalam proses belajar mengajar di kelas bisa terwujud.

 

Bila kepala sekolah diibaratkan dekan di perguruan tinggi, maka kepala dinasnya adalah rektor yang bertugas, antara lain, men-sinergikan antar fakultas melalui pembinaan dan berkoordinasi dengan pihak eksternal kampus. Kepala dinas pendidikan, kedalam jajarannya, walaupun dibantu oleh beberapa kasubdin, sebagai pimpinan dia tetap merupakan orang yang diharapkan dan didengarkan pengarahan teknisnya di bidang pendidikan-pengajaran itu.

Makanya, kemampuan untuk menjelaskan, meyakinkan, seperti apa proses pendidikan melalui program pembelajaran yang transformatif sangat diperlukan. Minimal, kepala dinas sendiri haruslah sosok yang telah sukses menempuh proses tranformasi ‘pandai’ dalam satu matapelajaran, dan dia ahli mengajarkannya. Sehingga dia berkemampuan menguraikan permasalahan teknis pendidikan baik dalam rapat-rapat dilingkungan internal para pendidik, apalagi kepada lingkup eksternal, dimana dia mungkin dianggap satu-satunya (narasumber) yang paham benar soal pendidikan, untuk didengar pertimbangannya.

 

Bayangkan, seorang sipil ditugasi memimpin sebuah misi penggempuran oleh satu satuan tempur militer. Atau katakanlah dia seorang dokter tentara karena lama berdinas pangkatnya sudah tinggi; layakkah dia ditugasi memimpin sebuah operasi militer?

Sementara, dalam dunia pendidikan/pengajaran ‘pertempuran’ itu berlangsung sepanjang hari, sepanjang tahun.

  

Dalam bidang apapun, tiadak hanya dalam bidang pendidikan dan pengajaran, bila kita ingin  berorientasi kepada mutu, kita harus mendudukkan orang yang ahli di bidangnya, terlebih bila bidang itu menghendaki keahlian khusus. Dalam era kemajuan iptek global sekarang,  berbagai bidang semakin menjurus kepada  sifat kekhususan, atau spesialisasi. Ini disebabkan kerena tuntutan kepada mutu yang semakin tinggi. Masarakat, sebagai konsumen, menghendaki mutu.

Adalah tindakan melawan arus jika kita tetap ingin bertahan dengan para ‘generalist’; termasuk keinginan untuk bertahan dengan management generalist dalam dunia pendidikan. Guru dan kepala sekolah yang dipimpin semakin pintar dan kritis sebagaimana mestinya. Hanya karena para guru, dituntut untuk selalu low profile; mereka mungkin kelihatan seperti kurang tampang untuk  menjadi pimpinan atau manager di kalangan sendiri.

   

Visi-misi, di bidang pendidikan kearah peningkatan mutu sudah jelas. Yang penting kita jangan salah memilih; ketangan ahli yang mana perumusan program pendidikan dan implementasinya akan kita diserahkan? 

 

Ke tangan guru? Guru seperti apa? Bagaimana track record-nya, managerial skill-nya, disamping keterbukaannya untuk berkoordinasi dengan instansi horizontal dan vertical lain?

 

Bila diserahkan kepada orang yang tepat, kita mungkin akan dapat berbicara soal mutu bukan sekedar berbicara pembangunan gedung sekolah.

 

Tidak benar bahwa orangtua siswa hanya berpikir, asal anaknya dapat diterima di sekolah, dan tidak mempermasalahkan mutu; ini terbukti dengan banyaknya orantua siswa yang berusaha sekuat tenaga agar anaknya dapat bersekolah di sekolah yang mereka anggap paforit,  cukup bermutu.

 

Padang 26 Juli 2004

 _______________________

*Penulis adalah mantan Kasubdin Pendidikan Dasar dan Menengah di Dinas Pendidikan Kabupaten Solok, sekarang staf Dinas Pendidikan Prop. Sumatera Barat.

E-Mail Address:  <fekrynur@indosat.net.id>  

 


  

  
http://pakguruonline.pendidikan.net

Situs ini menampung sumbangan tulisan, berupa makalah, kajian, serta ciloteh para guru. 

Silahkan kirim tulisan  kepada web master :

zfikri@telkom.net